INTERPOL Ungkap Kejahatan Siber Kini Jadi Industri Terorganisasi, Ini yang Perlu Diwaspadai
16 Okt 2026 · Sumber: Kompas.com

Kejahatan di dunia maya tidak lagi sekadar ulah peretas yang bekerja sendirian di balik layar komputer. INTERPOL dalam rilis terbarunya melaporkan bahwa kejahatan siber telah berevolusi menjadi ekosistem terindustrialisasi yang beroperasi lintas batas negara. Di balik satu serangan yang tampak sederhana, bisa terdapat jaringan pelaku, perangkat lunak, infrastruktur digital, rekening penampung, hingga aliran dana yang tersebar di berbagai negara.
Angka yang Mengkhawatirkan
Laporan Asia and South Pacific Cyberthreat Assessment 2025/2026 yang diterbitkan INTERPOL mencatat sejumlah temuan penting. Kejahatan siber disebut menyumbang lebih dari 30 persen dari seluruh kejahatan di sejumlah negara yang diteliti. Sepanjang 2024, tercatat lebih dari 135.000 serangan ransomware, sementara serangan distributed denial-of-service (DDoS) meningkat 92 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Yang lebih mengejutkan, pertukaran informasi terkait deepfake di forum kejahatan siber dan saluran Telegram di Asia Tenggara meningkat 600 persen hanya dalam kurun Februari hingga Juni 2024. Angka-angka ini menunjukkan bahwa ancaman siber telah berkembang menjadi persoalan sistemik, bukan sekadar insiden terisolasi.
Peran AI dalam Mempercepat Kejahatan
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) ikut mendorong kecanggihan kejahatan siber. Jika sebelumnya penipu harus menyusun pesan secara manual dan membangun komunikasi satu per satu, kini AI bisa melakukannya dalam hitungan detik. AI mampu menghasilkan pesan phishing yang sangat meyakinkan, meniru gaya bahasa seseorang, bahkan menciptakan suara dan video yang makin presisi menyerupai orang yang dikenal korban.
Teknologi deepfake dan soundlike membuat persoalan ini semakin rumit. Seseorang bisa menerima panggilan video yang tampak berasal dari atasan, anggota keluarga, atau pejabat perusahaan, padahal identitas di balik layar sebenarnya palsu. Modus ini pernah digunakan untuk memerintahkan transfer dana dalam jumlah besar, seperti kasus yang terjadi di Hong Kong beberapa waktu lalu.
Langkah Melindungi Diri
Menghadapi ancaman yang semakin canggih, kewaspadaan menjadi benteng pertahanan pertama. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
- Verifikasi setiap permintaan penting. Jika menerima permintaan transfer atau data lewat pesan atau telepon, konfirmasi ulang melalui kanal resmi.
- Jangan mudah percaya pada panggilan video. Wajah dan suara yang meyakinkan bisa saja hasil manipulasi. Cek kebenarannya lewat jalur lain.
- Jaga data pribadi. Hindari membagikan informasi sensitif seperti kode OTP, PIN, dan kata sandi kepada siapa pun.
- Waspada tautan dan lampiran mencurigakan. Jangan mengeklik tautan dari sumber yang tidak dikenal atau tidak bisa diverifikasi.
- Perbarui keamanan perangkat. Gunakan kata sandi yang kuat, aktifkan autentikasi dua faktor, dan rutin perbarui aplikasi.
Ancaman yang Terus Berkembang
Wajah baru kejahatan siber ini menjadi pengingat bahwa ancaman digital tidak lagi mengenal batas. Pelaku tidak hanya mencuri data atau membobol rekening, tapi juga menyerang infrastruktur digital, memeras perusahaan, memanipulasi identitas, dan mengeksploitasi kepercayaan manusia. Dengan memahami bagaimana industri kejahatan ini bekerja, kita bisa lebih waspada dan tidak mudah menjadi korban.
Sumber: Kompas.com
Artikel ini bagian dari Percaya Cuan — portal edukasi digital Indonesia.