Riset: 16 Serangan Siber Hantam Indonesia Tiap Detik, Begini Cara Melindungi Diri
25 Agu 2026 · Sumber: Kompas.com

Angka yang bikin waspada
Serangan siber yang menyasar Indonesia melonjak hampir dua kali lipat pada semester I 2026. Laporan berjudul Ancaman Digital di Indonesia Semester I 2026 dari platform intelijen ancaman AwanPintar.id mencatat 257.976.333 serangan terjadi sepanjang Januari hingga Juni 2026. Jika dirata-ratakan, jumlah itu setara dengan 16 serangan siber setiap detik.
Baca juga: BSSN: 1,52 Miliar Serangan Siber Hantam Indonesia Sepanjang Semester I 2026
Baca juga: Serangan DDoS di Indonesia Naik 62% pada Kuartal I 2026, 41% Bermuatan Tebusan
Angka tersebut meningkat sekitar 93,33 persen dibandingkan semester I 2025 yang mencatat 133.439.209 serangan. Lonjakan ini menandakan ancaman digital di Indonesia kian agresif dan terotomatisasi.
Apa saja jenis serangan yang paling dominan?
Laporan itu mengungkap beberapa kategori serangan yang paling sering terjadi:
- Upaya perebutan hak administrator — porsinya melonjak tajam dari 2,76 persen menjadi 43,65 persen. Serangan ini berusaha mengambil alih kendali penuh atas sebuah sistem.
- Manipulasi protokol jaringan — kategori terbesar kedua dengan porsi 27,22 persen, termasuk potensi serangan DDoS yang bisa melumpuhkan layanan.
- Upaya pembocoran informasi — naik dari 4,66 persen menjadi 13,97 persen. Sasaran utamanya antara lain akun, data klien, dan informasi kartu kredit.
Metode brute force alias mencoba banyak kombinasi kata sandi secara otomatis juga masih banyak digunakan. Pelaku kini memakai alat yang mampu menjajal ribuan kombinasi nama pengguna dan kata sandi dalam hitungan detik.
Dari mana serangan itu berasal?
Menurut laporan yang sama, China menjadi sumber serangan paling dominan dengan porsi naik dari 12,87 persen menjadi 21,94 persen, disusul Amerika Serikat dari 9,07 persen menjadi 10,83 persen. Menariknya, serangan dari dalam negeri juga meningkat, termasuk dari Banyuwangi dan Tangerang.
Founder AwanPintar.id, Yudhi Kukuh, menilai eskalasi ini dipicu meluasnya attack surface akibat akselerasi transformasi digital di sektor pemerintahan, layanan publik, dan dunia usaha, termasuk masifnya pemanfaatan layanan cloud, AI, dan transaksi online.
Kerentanan perangkat lunak ikut memperlebar celah
Selain serangan langsung, laporan itu juga mencatat 34.804 kerentanan perangkat lunak open source (OSV) dirilis sepanjang semester I 2026, sementara catatan kerentanan keamanan (CVE) melonjak 71 persen pada Maret 2026. Banyaknya kerentanan ini memperlebar celah yang bisa dimanfaatkan pelaku. Itulah kenapa memperbarui perangkat lunak secara rutin jadi langkah paling sederhana namun paling sering diabaikan.
Yang bisa kamu lakukan untuk melindungi diri
Meski sebagian besar serangan menyasar organisasi, kamu sebagai pengguna tetap punya peran penting. Berikut langkah sederhana yang bisa langsung diterapkan:
- Gunakan kata sandi yang kuat dan unik — hindari satu kata sandi untuk banyak akun, dan aktifkan autentikasi dua faktor (2FA).
- Waspada terhadap phishing — jangan asal klik tautan atau lampiran dari pesan tak dikenal. Pelajari lebih lanjut lewat panduan mengenali email phishing.
- Perbarui perangkat lunak secara rutin — banyak serangan memanfaatkan kerentanan yang sebenarnya sudah ada perbaikannya.
- Batasi informasi yang dibagikan online — makin sedikit data pribadi yang tersebar, makin kecil pula risikonya.
Buat kamu yang ingin mengamankan akun-akun digital secara menyeluruh, kami juga sudah menyusun panduan lengkap mengamankan akun digital. Sementara itu, konteks lebih luas soal kondisi keamanan siber tanah air bisa kamu baca di artikel Indonesia darurat keamanan siber.
Lonjakan serangan siber adalah pengingat bahwa keamanan digital bukan lagi urusan segelintir orang. Mulai dari kata sandi, 2FA, hingga kebiasaan berinternet yang lebih hati-hati, langkah kecil yang konsisten bisa membuat perbedaan besar.
Sumber: Kompas.com (Tekno)