Serangan DDoS di Indonesia Naik 62% pada Kuartal I 2026, 41% Bermuatan Tebusan
27 Agu 2026 · Sumber: Berita Prioritas


Ancaman keamanan siber di Indonesia terus meningkat. Data terbaru dari perusahaan keamanan siber StormWall mencatat jumlah serangan distributed denial of service (DDoS) terhadap berbagai organisasi di Tanah Air melonjak hingga 62 persen pada kuartal pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga: BSSN: 1,52 Miliar Serangan Siber Hantam Indonesia Sepanjang Semester I 2026
Baca juga: Indonesia Darurat Keamanan Siber: Kebocoran Data Terus Meningkat, Ini Kata Pakar ITB
Baca juga: RUU Keamanan dan Ketahanan Siber Mulai Dibahas DPR, Ini Poin Pentingnya
Baca juga: Riset: 16 Serangan Siber Hantam Indonesia Tiap Detik, Begini Cara Melindungi Diri
Mayoritas Serangan Bermotif Finansial
Dari temuan StormWall, sekitar 70 persen serangan DDoS yang menyasar target di Indonesia bermotif finansial. Yang lebih mengkhawatirkan, 41 persen di antaranya disertai tuntutan tebusan. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding rata-rata global yang berada di kisaran 30 persen. Artinya, semakin banyak peretas yang melihat serangan ini sebagai alat pemerasan, bukan sekadar gangguan teknis.
Industri Kritis Jadi Sasaran Utama
Menurut data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang dirilis Mei lalu, Indonesia menghadapi sekitar 5 miliar anomali lalu lintas data pada sistem elektronik setiap tahun, atau setara 170 serangan siber per detik. Serangan ini menargetkan industri-industri kritis seperti perbankan, layanan keuangan, dan kesehatan.
Serangan Makin Lama dan Lebih Persisten
Tak hanya bertambah banyak, durasi serangan di Indonesia juga tercatat lebih lama. StormWall mencatat hanya 62 persen serangan di Indonesia yang selesai dalam waktu kurang dari lima menit, kontras dengan angka global yang mencapai 78 persen untuk durasi yang sama. Artinya, serangan di Indonesia cenderung lebih gigih dan berlarut-larut.
Apa Itu Serangan DDoS?
Secara sederhana, DDoS adalah serangan yang bertujuan membuat sebuah layanan, situs web, atau server tidak bisa diakses. Caranya dengan membanjiri sistem target menggunakan lalu lintas data dalam jumlah sangat besar secara serentak, biasanya lewat jaringan botnet — kumpulan perangkat yang telah disusupi tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Pengamat teknologi informasi Dicky Yuniarto mengibaratkan serangan ini seperti jalan yang awalnya lenggang lalu tiba-tiba dipenuhi kendaraan hingga macet total. Akibatnya, server kehabisan sumber daya, menjadi lambat, atau bahkan mati sehingga situs tidak bisa diakses siapa pun.
Cara Melindungi Diri dan Perangkat
Buat pengguna biasa, penting untuk tetap waspada. Peretas kerap menyasar perangkat individu untuk dijadikan bagian dari botnet. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain rutin memperbarui sistem operasi dan aplikasi, menggunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun, serta menghindari mengunduh aplikasi dari sumber yang tidak jelas.
Kesadaran ini penting karena perangkat pribadi yang tidak aman bisa ikut disalahgunakan untuk melancarkan serangan ke pihak lain. Dengan menjaga kebersihan digital masing-masing, kita turut memperkecil ruang gerak para pelaku kejahatan siber.
Dampak bagi Pelaku Usaha dan Layanan Digital
Bagi pelaku bisnis yang mengandalkan layanan online, gangguan akibat DDoS bisa berarti kehilangan pendapatan, rusaknya reputasi, hingga potensi tuntutan tebusan. Karena itu, mitigasi seperti layanan anti-DDoS, pemantauan trafik, dan rencana pemulihan perlu disiapkan sejak awal, bukan setelah serangan terjadi.
Serangan siber tidak lagi bisa dianggap sepele. Baik individu maupun organisasi perlu menjadikan keamanan digital sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar respons saat insiden terjadi. Semakin banyak pihak yang sadar dan siap, semakin kecil pula ruang gerak para pelaku kejahatan siber.
Yang terpenting, jangan pernah anggap remeh keamanan perangkat pribadi. Mulai dari mengganti kata sandi secara berkala hingga mengaktifkan autentikasi dua faktor, langkah kecil itu bisa membuat perangkatmu jauh lebih sulit disusupi para peretas.
Dengan kebiasaan sederhana ini, risiko perangkatmu ikut disusupi dan dimanfaatkan para peretas bisa ditekan secara signifikan. Tetap waspada, dan jadikan keamanan digital sebagai prioritas.
Sumber: Berita Prioritas